Total Tayangan Laman

Minggu, 12 Juni 2011

Bab 3 KITA TERCIPTA DARI KETIADAAN



KITA TERCIPTA DARI KETIADAAN

(Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.{QS. Al-Baqarah [2]:117}
Kata “bada’a” dalam bahasa Arab berarti penciptaan sesuatu dari ketiadaan. Kata ini juga menunjukkan kenyataan bahwa sesuatu tercipta bukan berdasarkan pola yang sebelumnya sudah dirancang dari suatu hal, melainkan sebagai satu entitas yang sama sekali baru yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Keajaiban terbesar penciptaan adalah pembuatan semua konsep dari ketiadaan coba pikirkan spektrum warna. Tidak seorangpun dari kita bisa membayangkan satu warna yang belum pernah kita lihat, tidak pula kita dapat menciptakan warna itu. Kita terbiasa dengan warna-warna yang sudah ada, tetapi kita tidak mungkin menciptakan warna baru. Allah, sebaliknya, menciptakan semua warna pada satu masa ketika konsep warna belum ada, sama halnya dengan alam semesta yang belum ada sebelumnya. Menciptakan sebuah konsep dan rentang isinya dari ketiadaan berada diluar imajinasi dan kekuatan manusia.
Kaum ateis mengatakan bahwa materi berasal dari keabadian, bahwa tidak memiliki permulaan, dan bahwa semua bentuk berkembang secara kebetulan. Sebagai contoh, seorang pakar teori materialis ternama George Politzer, dalam bukunya, menyatakan bahwa alam semesta tidak diciptakan ; kalau memang diciptakan, maka semesta itu pastilah buah karya Tuhan yang menciptakannya pada suatu masa dari ketiadaan. Oleh karena itu, agar bisa menerima teori penciptaan, kita harus membayangkan adanya suatu masa saat tidak ada alam semesta, karena ia muncul dari kehampaan.
Ateisme adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak ada, sementara materialisme adalah keyakinan bahwa hanya benda-benda fisiklah yang betul-betul ada. Kedua kata ini sering dipergunakan sebagai sinonim. Kaum ateis yang menyangkal keberadaan Tuhan menerima ketidakterbatasan keberadaan materi, dan dengan demikian berpandangan materialis. Kaum ateis mengatakan bahwa materi tidak diciptakan melainkan muncul dari keabadian. Postulat tentang keberadaan Tuhan yang kekal dan bahwa materi diciptakan terpulang kembali ke agama-agama monoteis. Semua agama monoteis berpandangan bahwa Tuhan bersifat kekal dan bahwa materi diciptakan Tuhan.
Adalah benar bahwa masih ada orang pada masa sekarang yang menyembah matahari, bulan, dan api. Mereka menjalankan praktik dan ritual tanpa pembenaran logis, ilmiah, atau filosofis apapun. Tak ada gunanya menyangkal secara logis maupun ilmiah keyakinan yang tidak menghargai akal, logika, dan sains. Orang-orang seperti itu membutuhkan bukti yang akan mematahkan prasangka mereka dan membebaskan mereka dari obsesi. Di sepanjang sejarah telah ada tiga sudut pandang berbeda yang mengaku sejalan dengan akal dan sains. Ketiga sudut pandang ini setidaknya mengatakan bahwa mereka menerima akal, logika, dan sains dengan kriteria tertentu.
Ketiga sudut pandang itu adalah:
1. MONOTEISME : Tidak ada Tuhan Kecuali Allah, Dialah yang menciptakan alam semesta fisikawi yang luar biasa ini serta segala yang ada didalamnya, benda hidup atau mati.
2. ATEIS MATERIALISME : Materi telah ada dan abadi. Segala sesuatunya tercipta dari materi lewat serangkaian peristiwa kebetulan.
3. AGNOTISISME : Kita tidak bisa mengetahui mana dari kedua sudut pandang diatas yang benar, keduanya boleh jadi dibenarkan dalam keyakinannya .
Pada dasarnya hanya ada dua alternatif pokok, karena yang ketiga lebih menyatakan tidak ada satupun dari kedua pandangan itu yang dapat dibuktikan, bukan mengajukan pandangan baru. Sudut pandang agnostik mengatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui apakah materi dan benda-benda diciptkan atau tidak.

Bersambung ke :: Big Bang Menafikan Agnotisisme dan Ateisme
SUMBER :
Taslaman, Caner. Miracle Of The Qur’an. Turki : Nettleberyy / Citlembik Publications, 2006.
Bab 3
Keajaiban Al-Qur’an mengungkap penemuan – penemuan Ilmiah Modern.
Halaman : 44-46

Bab 2 BIG BANG : PERTANDA KE-ESA-AN ALLAH



Sambungan dari :: MUNGKINKAH MUHAMMAD MENGIRIM SATELIT KE LUAR ANGKASA?

BIG BANG : PERTANDA KE-ESA-AN ALLAH
Keyakinan politeis memiliki struktur yang berbeda, bergantung pada komunitas dan waktu saat keyakinan tersebut muncul. Keyakinan politeis di Mesir kuno jauh berbeda dari politeisme India. Akan tetapi, kesemuanya memiliki persamaan. Setiap dewa memiliki domain bagiannya masing-masing tempat ia unjuk kebesarannya. Matahari adalah dewa, begitu pula bulan, dan dewa yang tempat sucinya perbukitan adalah makhluk lain lagi. Sebagian dewa ini mengendalikan hujan, yang lain angin, sebagian mengendalikan pegunungan, sebagian lain sungai …. Berlawanan dengan sistem-kepercayaan yang membagi-bagi jagat raya, agama-agama monoteis, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam, memandang semesta sebagai suatu kesatuan. Ketiga agama ini mengakui bahwa perpecahan dan pemisahan tidak bisa dibayangkan pada alam semesta yang diciptakan oleh satu Tuhan. Menurut agama monoteis, yang tampak terbelah hanyalah penampilannya, sementara esensi alam semesta ini tetap satu keutuhan ; alam semesta yang diperintah Allah adalah satu entitas, yang setiap satu titiknya salaing berhubungan dengan semua titik lain.
Filsuf terkemuka masa lampau, dari Kindi, Ibn Rusyd, dan Ibnu Sina sampai para ilmuwan Nasrani, mengumumkan bahwa “Yang satu berasal dari yang satu”, dengan demikian menyatakan keesaan Allah. Para pemikir ini telah mencoba menemukan kolerasi antara kejadian-kejadian di alam semesta yang kesimpulan logisnya adalah keesaan Allah. Sebagai akibat dari Big Bang, keesaan ini sekali lagi terbukti. Tak dapat disangkal lagi bahwa alam semesta berasal dari satu komposisi tunggal. Mengingat segalanya muncul dari entitas tunggal ini, semua elemen mestilah berhubungan satu sama lain. Sejak itu, tidak seorangpun dapat menyatakan bahwa matahari, bulan, manusia, ular atau tanaman mempunyai penciptanya masing-masing. Keesaan terletak dibalik segalanya, dan Sang Pencpta keesaan ini adalah juga Pencipta Matahari, bulan, binatang liar, dan tetumbuhan yang muncul dari keesaan ini. Bahkan sebelum Teori Big Bang, ketidakrasionalan gagasan yang menisbahkan berbagai pencipta untuk aneka objek sudah terbukti. Akan tetapi, Big Bang memberikan bukti baru bahwa Allah itu Esa.
1. Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa”.
2. Allah tempat meminta segala sesuatu.
3. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
{QS. Al-Ikhlaash [112]:1-4}


SUMBER :
Taslaman, Caner. Miracle Of The Qur’an. Turki : Nettleberyy / Citlembik Publications, 2006.
Keajaiban Al-Qur’an mengungkap penemuan – penemuan Ilmiah Modern.
BAB II
Halaman : 42-43

Bab 2 MUNGKINKAH MUHAMMAD MENGIRIM SATELIT KE LUAR ANGKASA?


Sambungan dari :: SATELIT MENDUKUNG BIG BANG

MUNGKINKAH MUHAMMAD MENGIRIM SATELIT KE LUAR ANGKASA?
Kita telah menyaksikan bukti dari data satelit yang diluncurkan keluar angkasa. Bagaimana kejadiannya sehingga Nabi memiliki wawasan tentang fakta bahwa bumi dan langit dulu bersatu kemudian memisah?
Kita bertanya-tanya, mungkinkah Nabi Memiliki sebuah teleskop yang disembunyikan didalam bukit pasir? Teleskop yang sama cangihnya dengan Teleskop Hubble? Apakah orang-orang kafir kini akan berkata bahwa Muhammad menemukan kebersatuan purba langit dan bumi dengan memiliki alat untuk menghitung radiasi latar belakang kosmik, dan bahwa dia mengirim satelitnya lama sebelum COBE, 1.400 tahun lalu? Penzias dan Wilson bersama-sama mendapat hadiah Nobel atas penemuan ini. Akankah orang-orang kafir itu mengusulkan Muhammad untuk Nobel kategori Fisika karena telah mengumumkan bahwa alam semesta adalah satu sebelum angkasa mengembang 1.400 tahun lalu?
Terbukti bahwa siapa pun yang menyatakan bahwa Al-Qur’an tidak berasal dari ALLAH, tetapi karangan Nabi saja, pastilah menjadi sasaran ejekan. Namun, keputusan untuk tetap kafir akan tetap kukuh dalam keyakinan mereka meski semua bukti dibawakan kehadapan mereka. Begitulah yang terjadi pada masa Ibrahim, Musa, dan Isa, demikian pula pada masa Muhammad. Psikologi orang-orang kafir tidak berubah sepanjang sejarah.
Mereka yang menentang Nabi Musa mengatakan bahwa mereka akan berpegang pada keyakinan mereka sendiri, apapun mukjizat yang ditunjukkan Nabi Musa.
Dan Mereka berkata (kepada Musa), “Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami, kami tidak akan beriman kepadamu. {QS. Al-A’raf [7]:132}
Bersambung ke :: Big Bang : Pertanda Ke-ESA-an ALLAH
SUMBER :
Taslaman, Caner. Miracle Of The Qur’an. Turki : Nettleberyy / Citlembik Publications, 2006.
Keajaiban Al-Qur’an mengungkap penemuan – penemuan Ilmiah Modern.
Halaman : 41-42

PROF. DAVID BENJAMIN KELDANI (ABDUL AHAD DAWUD) : MANTAN PASTOR KATOLIK



PROF. DAVID BENJAMIN KELDANI (ABDUL AHAD DAWUD) : MANTAN PASTOR KATOLIK
Prof. David Benjamin Keldani seorang Mantan Pastor Katolik dari Sekte Uniate Chaldean. Ia lahir pada tahun 1867 di Urmia, Persia. Dan mengenyam pendidikan dari sejak kecil dikota itu.
Dari tahun 1886-1889 (selama tiga tahun), ia menjadi pengajar Archbishop of Canterbury Mission untuk Assyrian (Nestorian) Christians di Urmia. Pada tahun 1892 ia diutus oleh Kardinal Vaughan ke Roma, disana ia mempelajari filsafat dan teologi pada propaganda fide college, dan pada tahun 1895 ia dinobatkan sebagai pastor. Ia banyak menulis artikel masalah keagamaan tentang “Gereja-gereja Timur” dalam bahasa Inggris dan Perancis.
Pada tahun 1888, Benjamin kembali lagi ke Persia. Di kampung halamannya, Digala, sekitar 1 mil dari kota, ia membuka sekolah gratis dan tahun berikutnya ia dikirim oleh otoritas-otoritas Gereja untuk memimpin keuskupan Salmas, dimana konflik yang tajam dan berbau skandal antara Uskup Besar Uniate, Khudabash dan para Bapa Lazarist yang sudah berlangsung lain mengecam terjadinya perpecahan.
Pertanyaan besar yang sudah lama berkecamuk dalam benak pastor ini sekarang mendekati klimaksnya. “Apakah agama Kristen (khususnya katolik), dengan banyak sekali bentuk dan warnanya, dan dengan naskah-naskha kitab sucinya yang “tidak otentik”/palsu dan menyimpang adalah agama Tuhan yang sejati?
Pada musim panas 1900 ia pensiun dan meninggalkan villa mungilnya ditengah-tengah kebun anggur dekat air mancur Chali-Boulaghi yang terkenal di Digala, dan selama sebulan disana ia habiskan waktunya untuk sembahyang dan bermeditasi. Ia membaca berulang-ulang naskah-naskah suci dalam teks-teks aslinya. Krisis pun berakhir dengan pengunduran resmi yang dikirimkannya ke Uskup Agung Uniate, Urmia, dimana ia secara terbuka menjelaskan kepada Mar(Mgr) Touma Audu mengenai alasan ia melepaskan fungsi-fungsi kepastorannya.
Segala upaya yang dilakukan oleh otoritas-otoritas gereja untuk membatalkan keputusannya sia-sia belaka. Tidak ada perselisihan atau permusuhan pribadi antara Benjamin dan para atasannya; semua hanyalah berdasarkan kesadaran.
Selama beberapa bulan Mr. Dawud (begitulah panggilannya) sekarang dipekerjakan di Tibriz sebagai inspektur di Kantor Pos Bea dan cukai persia dibawah para ahli Belgia. Kemudian ia ditugaskan sebagai guru dan penerjemah putra Mahkota ‘Ali Mirza. Pada tahun 1903 ia dikirim oleh British and Foreign Unitarian Association untuk menangani masalah pendidikan dan penerangan ditengah masyarakat desanya. Dalam perjalanannya menuju Persia, ia mengunjungi Konstantinopel, dan setelah mengadakan beberapa kali wawancara dengan Syaikhul Islam Jamaluddin Effendi dan beberapa ulama lainnya, ia memutuskan memeluk Islam.
Ia menyatakan bahwa ia masuk Islam tak lain karena hidayah Allah yang Mahakuasa. Tanpa bimbingan-Nya, semua pengetahuan, penelitian, dan usaha-usaha lain untuk menemukan kebenaran ini mungkin hanya akan membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui keesaan mutlak Tuhan, maka Nabi Muhammad pun menjadi pola sikap dan perilaku.
Setelah masuk Islam David Benjamin keladani mengganti namanya menjadi Abdul Ahad Dawud. Ia menulis buku “Muhammad the bible” (terjemahan : menguak misteri muhammad)
Sumber buku islam is my choice halaman 5 s/d 8.

Bab 2 SATELIT MENDUKUNG BIG BANG


Sambungan dari :: RADIASI LATAR BELAKANG KOSMIK

SATELIT MENDUKUNG BIG BANG
Setelah Penzias dan Wilson bersama-sama mendapatkan Nobel pada 1965, Penjelajah Latar Belakang Kosmik (Cosmic Background Explorer, COBE) diluncurkan ke angkasa pada 1989. Data yang diterima dari COBE membenarkan temuan Penzias dan Wilson. Banyak ilmuwan mengevaluasi data yang dihasilkan COBE sebagai bukti nyata. Maka proses yang dicetuskan Lemaitre pada 1920-an sekali lagi disokong oleh temuan-temuan baru pada 1990-an. Seriu empat ratus tahun sudah berlalu sejak pewahyuan Al-qur’an dan temuan satelit membuktikan kebenaran pernyataan didalamnya. Katakanlah kita mendarat disebuah pulau tak berpenghuni dan tersandung abu sisa pembakaran:tidak ada orang yang akan meragukan bahwa pernah ada api dipulau ini. Sisa radasi yang ditemukan Penzias dan Wilson, serta data dari COBE, menunjukkan adanya Big Bang. Pernyataan oleh orang-orang kafir bahwa radiasi pernah terpental ke seluruh angkasa haruslah seragam semua arah adalah indikator lain betapa bukti ini masuk akal.
Salah satu bukti yang menyokong Teori Big Bang berkaitan dengan perbandingan hedrogen-helium di alam semesta. Pada 1930-an, para astronom yang melandaskan kajiannya pada kenyataan bahwa setiap benda langit melepaskan cahaya tertentu, menggunakan spektroskop untuk menganalisis komposisi bintang dan galaksi. Perhitungan yang dilakukan dengan bantuan spektroskop tersebut dan juga rumus matematika menunjukkan bahwa alam semesta, pada tahap awalnya, terdri atas 73% hidrogen dan 25% helium serta 2% gas lain seperti karbon dan oksigen. Bintang tidak menghasilkan hidrogen ataupun helium sebanyak it. Penghitungan yang dilakukan para ilmuwan memperjelas bahwa 20%-30% helium pastilah diproduksi sebelum evolusi bintang. Hanya bola api purba diawal Big Bang yang mungkin menghasilkan sintesis cahaya seperti it ; sisa-sisa Big Bang serta jumlah hidrogen dan helium di angkasa luar hanyalah beberapa bukti yang memperkuat teori tersebut.
Walaupun bukti ilmiah yang sudah tersedia cukup memadai untuk membuktikan Teori Big Bang, kita menyaksikan terus bertambahnya bukti ini. Sebuah medium Big Bang dibangun di Swiss di CERN (Conseil Europeaen pour la Recherche Nucleaire), pusat [penelitian] ternama yang memiliki fasilitas paling kuat dan canggih didunia dalam bidang ini. Temuan dari penelitian yang diselenggarakan disini memberikan dukungan tambahan bagi teori tersebut.
Hukum termodinamika juga membenarkan Teori Big Bang. Menurut hukum ini, jagat raya mestilah memiliki awal; hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa sejumlah proses dialam terjadi dalam satu arah dan tidak-dapat-dibalik, arahnya ditentukan oleh penambahan entropi keseluruhan. Dengan demikian, energi semakin berkurang keterpakaiannya dan akhirnya menjadi tak menguntungkan lagi. Apabila alam semesta dan materi telah ada sepanjang keabadian, gerakan tentunya menjadi diam dalam waktu abadi. Singkat kata, fakta yang ada menunjukkan adanya awal mula. Jika kita mengira bahwa waktu tidak diciptakan, kontradiksi akan terjadi dan berakhir dengan dilema. Satu-satunya pemecahan untuk dilema ini adalah bahwa waktu diciptakan dan bahwa alam semesta mesti memiliki awal ; ini, sebagaimana dibuktikan oleh Teori Big Bang, merupakan bukti yang saling menguatkan.

Bersambung ke :: MUNGKINKAH MUHAMMAD MENGIRIM SATELIT KE LUAR ANGKASA?




SUMBER :
Taslaman, Caner. Miracle Of The Qur’an. Turki : Nettleberyy / Citlembik Publications, 2006.
Keajaiban Al-Qur’an mengungkap penemuan – penemuan Ilmiah Modern.
Halaman : 40-41

Bab 2 RADIASI LATAR BELAKANG KOSMIK



Sambungan dari :: PERJALANAN DI MULAI

RADIASI LATAR BELAKANG KOSMIK
Awal alam semesta yang bersatu diungkapkan dalam bahasa Arab dengan kata “ratq”, yang berarti keadaan menyatu, serta kata “fatq”, yang artinya perpecahan atau keterpisahan. Saya sudah menyebutkan bahwa ketika Lemaitre memostulatkan keterpisahan sebagaimana dijabarkan dalam ayat Al-Qur’an, teorinya ditolak. Salah satu penentang argumen ini ialah Fred Hoyle. Pada tahun 1940-an, Fred Hoyle berpendapat bahwa jika Big Bang benar-benar terjadi, maka mestinya ada sisa ledakan, dan dia meminta fosil ini ditunjukkan. Kritik satir ini memicu ditemukannya banyak bukti yang mendukung Teori Big Bang. Kata “fosil” yang secara olok-olok dikemukakan oleh Hoyle menjadi istilah ilmiah yang bukti nyatanya ditemukan belakangan. Walau bermaksud mematahkan Teori Big Bang dengan cara melucu, tanpa sadar dia justru menyumbang pada peneguhan Teori Big Bang.
Pada 1948, George Gamow dan muridnya, Ralph Adler, menyimpulkan bahwa jika Teori Big Bang memang benar, pastilah ada fosil yang tersisa, sebagaimana di utarakan Hoyle. Menurut logika mereka, radiasi latar belakang tingkat rendah pasti ada disegala arah karena setelah terjadi Big Bang, alam semesta mulai berkembang ke segala arah. Radiasi lain yang bukan disebabkan oleh Big Bang pasti punya titik tertentu diangkasa tempat ia berasal. Namun, radiasi yang tercipta akibat ledakan semacam itu tidak dapat dilacak balik ke suatu titik. Dengan ekspansi dinamis alam semesta, radiasi tersebut mestinya tersebar keseluruh penjuru. Pada 1960-an, bentuk radiasi yang dibayangkan Gamow dan Adler menjadi pokok penelitian sekelompok ilmuwan dengan peralatan akurat di Universitas Princeton. Akan tetapi, apa yang tengah mereka cari ditemukan oleh orang lain dengan cara yang menarik. Arno Penzias dan Robert Wilson adalah peneliti di Bell Telephone Company. Suatu hari, secara tak terduga, mereka mendeteksi radiasi gelombang mikro seragam yang diduga merupakan sisa energi termal diseluruh jagat raya bersuhu 3 Kelvin, setara dengan suhu 3 derajat Celcius diatas titik 0 Absolut. Awalnya Penzias dan Wilson tidak dapat menyingkapkan misteri it dan terpaksa menelpon teman mereka, Robert Dicke bersama timnya. Begitu meletakkan gagang telepon, Dicke paham bahwa dia telah kalah karena menyadari kenyataan bahwa penemuan yang akan mengantarkannya kepada hadiah Nobel ini sudah menjadi hak orang lain. Survei terhadap radiasi kosmik 3-Kelvin menunjukkan bahwa radiasi tersebut persis seragam disemua arah. Residu yang diyakini oleh Hoyle tidak ada itu, telah ditemukan. Maka hadiah Nobel diberikan kepada Penzias dan Wilson.

Bersambung ke :: SATELIT MENDUKUNG BIG BANG
SUMBER :
Taslaman, Caner. Miracle Of The Qur’an. Turki : Nettleberyy / Citlembik Publications, 2006.
Keajaiban Al-Qur’an mengungkap penemuan – penemuan Ilmiah Modern.
Halaman : 39

Minggu, 15 Mei 2011

Bab 2 PERJALANAN DI MULAI



PERJALANAN DI MULAI
Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dulu menyatu, kemudian kami pisahkan antara keduanya ; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air ; maka mengapa mereka tidak beriman ? {Al-Anbiyaa [21]:30}
Dari kandungannya, kami menyimpulkan bahwa ayat ini memperingatkan orang kafir karena mengabaikan mukjizat yang sudah nyata. Hujah pokok kalangan ateis adalah bahwa materi tidak memiliki awalan dan bahwa materilah yang menciptakan semuanya, baik mahkluk hidup maupun benda mati, secara kebetulan. Teori Big Bang berlawanan dengan pernyataan mendasar ateis karena teori tersebut menganggap bahwa alam semesta dan waktu memiliki awalan. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui …..?” merupakan pernyataan eksplisit. Dan sebagaimana tersirat dalam ayat ini, fakta bahwa langit dan bumi dalam keadaan bersatu sebelum keduanya dipisahkan, adalah sesuatu yang memang dapat diterima oleh pikiran manusia. Tahun 1900-an adalah masa ketika temuan–temuan ilmiah saling menyusul. Pada tahun-tahun itu, ebagian orang berusaha untuk menunjukkan pertentangan antara sains dan agama. Tatkala tingkah laku mereka dimanjakan oleh kemakmuran akibat revolusi indstri, kesombonganlah yang membuat mereka memberhalalkan materi, berani mengganti Allah dengan materi. Kenyataan bahwa materi diciptakan – bahwa ia memiliki awalan – sebagaimana terbukti lewat teori Big Bang, adalah pukulan bagi orang-orang kafir. Kalimat penutup dari ayat diatas, “Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” sangat jelas, sejarah menguatkan kebenaran ini dan orang-orang kafir tetap menyangkal walau bukti telah ditunjukkan.
Meskipun demikian, argumen ayat ini menentang dalil kaum kafir tentang materi yang kekal dan memaksa mereka untuk beriman. Kebenaran yang telah diterima sebagai kenyataan 1.300 tahun setelah diturunkannya Al-Qur’an ini adalah peringatan lain terhadap golongan kafir. Dalam sejarah, tiada Tuhan selain Allah, yang mengatakan lewat Al-Qur’an, bahwa alam semesta mengembang dan bahwa langit dan bumi telah dipisahkan. Yunani kuno, Abad Pertengahan, Zaman Modern, Plato, Thales – kesemuanya yang telah mencoba menjelaskan fenomena alam dalam kerangka alami – juga pemikir besar dunia seperti Ptolomeus, Copernicus, Kepler, dan Kant, tidak satupun yang percaya pada pandangan bahwa alam semesta mengembang dan pada kenyataan bahwa sebelum penciptaan, langit dan bumi merupakan kesatuan tak terpisah. Tanpa perlengkapan canggih abad ke-20 untuk membantu mereka, tanpa semua kumpulan data ilmiah, semua filsuf dan ahli fisika ternama ini gagal mengungkapkan data tersebut. Sang Pencipta jagat raya ini menyampaikan fakta penting tentang ciptaan-Nya dalam kitab-Nya dan menjelaskan tentang benda-benda langit, dengan it juga membuktikan bahwa Al-Qur’anadalah firman-Nya. Allah menyingkapkan kepada manusia bukti-bukti penciptaan-Nya, ciptaan yang berawal dari satu titik dan manusia berada di titik lain. Penting dicatat bahwa didalam ayat ini , “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui ….?” Dia meramalkan kekeraskepalaan orang-orang kafir : “Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” Einstein pun mengatakan bahwa yang membuatnya lebih takjub adalah kemenyeluruhan temuan-temuannya tentang alam semesta, daripada temuan itu sendiri. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menekankan kenyataan bahwa fenomena ini pada kenyataannya berada didalam cakupan kapasitas mental manusia.
Bersambung ke :: RADIASI LATAR BELAKANG KOSMIK



SUMBER :
Taslaman, Caner. Miracle Of The Qur’an. Turki : Nettleberyy / Citlembik Publications, 2006.
Keajaiban Al-Qur’an mengungkap penemuan – penemuan Ilmiah Modern.
Halaman : 37-38